Archive for April, 2012

Saling menajamkan

Author: Koinonia Administrator

Nats : 2 Samuel 12: 1-17

Pendahuluan:  Manusia tidak bisa menjalani hidup sendiri, pasti membutuhkan bantuan orang lain. Orang seperti apakah yang kita butuhkan?

Natan adalah seorang Nabi yang telah memberikan inspirasi saling membangun

ilustrasi nathan

1. Natan menajamkan Daud ketika merencanakan proyek  –  2 Sam 7:2-17

Natan memberitahukan ke Daud bahwa rencana membangun rumah Tuhan itu bagus, namun bukan Daud yang membangun melainkan Salomo. Ketika Daud mengalami kelesuan rohani, Natan datang membangkitkan semangat dan harapannya.

2. Natan menajamkan spiritualitas Daud  –  2 Sam 12: 10-15

Ketika Daud berbuat dosa, Natan menegur serta memberikan jalan keluar. Natan juga mengoreksi kekurangan Daud dan menilik Daud dalam bidang-bidang strategis.

3. Generasi kita membutuhkan ‘Natan masa kini” sebagai penasehat rohani dalam konteks penggilan dan pelayanan.

Natan telah membagikan hidupnya untuk orang lain, mendorong orang lain maju dalam kehidupan rohani. Bagaimana dengan kita?

 

(Intisari Renungan Kotbah Pdm. Maria Liem)

Kisah Para Rasul 6: 1-15, 7:54-60

Setiap kita yang dipanggil untuk melayani Allah, bukan hanya diminta untuk mengerjakan apa yang Allah kehendaki, namun juga untuk membangun kualitas hidup yang diperkenan Allah. Allah bukanlah Allah yang ini memperkenan apa yang kita kerjakan, Allah adalah Allah yang rindu memperkenan hidup kita … dan menemukan bahwa hidup orang-orang yang melayaniNya kedapatan seperti yang Ia kehendaki.

christian clipart

Belajar dari tokoh Stefanus, salah salah satu contoh pribadi yang bukan hanya menunjukan kualitas perlayanan yang dikehendaki Allah namun juga menjadi pribadi dengan kualitas hidup yang diperkenan Allah. Sebagai salah seorang diaken, Stefanus bukanlah pribadi dengan kualitas hidup yang sembarangan. Kisah Para Rasul 6, menjelaskan bagaimana kualiotas hidup yang ia miliki. Ia adalah pribadi yang terkenal baik (v.3), penuh dengan Roh & kikmat (v.3), penuh dengan iman dan Roh Kudus (v.5), penuh dengan karunia dan kuasa (v.8).

Dengan kualitas hidup dimiliki tersebut, yang kemudian membuat Stefanus mampu mempertanggungjawabkan setiap tugas yang dipercayakan kala ia dipilih dan dipercaya umat serta mendapat tanggungjawab dari Para Rasul untuk melayani kebutuhan umat sebagai seorang diaken, Yang menarik dan luar biasa, hasil pelayanan dari orang-orang dengan kualitas hidup seperti Stefanus menghasilkan gereja (umat percaya saat itu) menjadi komunitas yang mengerjakan kehendak Allah, menjadi komunitas yang diberkati dan mampu merahmati sesame. Hal itu terlihat nyata dari firman yang semakin tersebar, jumlah murid makin bertambah bahkan sejumlah imam juga menyerahkan diri dan percaya (Kis.6:7).

Membangun kualitas hidup untuk menjadi pribadi yang diperkenan Allah, bukanlah hal yang main-main bagi Stefanus … untuk itulah ia terus berjuang untuk membangun keyakinan yang kokoh pada Allah, membangun kehidupan yang bertangungungjawab kepada Allah, membangun hidup dalam kasih pengampunan seperti Allah.

Dengan kualitas hidup yang dimilikinya, bukan hanya prestasi pelayanan yang berhasil diwujudkan Stefanus … bahkan kita juga melihat moment dalam hidupnya yang menkonfirmasi bahwa dia sungguh-sungguh menjadi pribadi yang hidupnya diperkenan Allah … yaitu dalam Kis.6:15, saat banyak orang melihat Stefanus bagaikan “muka seorang malaikat” serta pada saat akhir hidupnya, ketika ia kedapatan meninggal dalam “kemuliaan Allah”.

Laus Deo

(Renungan Kotbah Ibadah Minggu GKMI Koinonia, 22 April 2012 oleh Kefas Lilik)