Archive for the ‘Khotbah’ Category

KEGAGALAN YANG MEMBAWA KEBERHASILAN

Author: Koinonia Administrator

gambar kesedihan

Kegagalan dapat merupakan berkat dalam kehidupan manusia. Oleh sebab orang yang menemui kegagalan tidak berarti bahwa ia gagal total, tetapi berarti bahwa ia belum berhasil. Kegagalan tidak berarti bahwa kita tidak mencapai apa-apa, melainkan berarti telah belajar sesuatu. Ingat bahwa setiap pengalaman adalah guru yang baik.

Kegagalan tidak berarti bahwa kita dipermalukan, melainkan berarti bahwa kita rela mencoba lagi. Karena kegagalan memberi landasan untuk lebih berusaha lagi.

Kegagalan tidak berarti kita tidak dapat memiliki keberhasilan, melainkan kita harus memakai cara yang lain untuk mencapainya. Kegagalan adalah pengalaman untuk merangsang daya cipta, dan mengembangkan kreatifitas kita. (more…)

Successful Christian

Author: Koinonia Administrator

successful image

Setiap orang mengharapkan keberhasilan baik itu dalam studi,pekerjaan, maupun dalam pelayanan. Keinginan untuk berhasil bukanlah sesuatu yang salah. Tuhan kita tentu juga menghendaki kita bisa berhasil dalam segala segi kehidupan. Hanya yang menjadi pertanyaan adalah apa sih ukuran sebuah keberhasilan?

Seringkali keberhasilan itu diukur dari segi prestasi yang makin baik, misalnya dalam dunia olah raga dikenal istilah ‘faster’, ‘stronger,’ and ‘higher;’ atau dalam pekerjaan berhasil berarti karirnya makin menanjak; atau dalam bisnis berhasil berarti pengasilannya makin besar; atau dalam pelayanan berhasil berarti jemaatnya makin bertambah banyak dan gerejanya makin besar.

Ukuran keberhasilan seperti itu kurang tepat karena seringkali mengabaikan motivasi, cara dan tujuan di dalam mencapainya.
Pada tiga hal tersebut merupakan faktor yang menjadi perhatian Allah dalam menilai kita. Itulah sebabnya Alkitab menunjukkan kepada kita beberapa prinsip keberhasilan yang berbeda.

Kita berhasil jika:
1. Kita telah melakukan/memberikan apa yang terbaik (Kolose 3:23; Matius 25:20-23)

2. Kita telah setia pada panggilan Tuhan (Ibrani 11:13)

3. Kita tahu apa yang terpenting (Matius 6:33)

4. Kita telah taat pada kebenaran Firman Tuhan dan kehendakNya (Filipi 2:5-11)

5  Kita telah memuliakan Allah (Roma 11:36)
Mari kita mengejar keberhasilan yang benar dan berkenan di hadapan Allah sehingga kita dapat disebut ‘Successful Christians.’

— renungan Kristen / resensi kotbah tgl 3 Juni 2012 di GKMI Koinonia oleh Pdt. Benjamin Suwandi Utomo

Saling menajamkan

Author: Koinonia Administrator

Nats : 2 Samuel 12: 1-17

Pendahuluan:  Manusia tidak bisa menjalani hidup sendiri, pasti membutuhkan bantuan orang lain. Orang seperti apakah yang kita butuhkan?

Natan adalah seorang Nabi yang telah memberikan inspirasi saling membangun

ilustrasi nathan

1. Natan menajamkan Daud ketika merencanakan proyek  -  2 Sam 7:2-17

Natan memberitahukan ke Daud bahwa rencana membangun rumah Tuhan itu bagus, namun bukan Daud yang membangun melainkan Salomo. Ketika Daud mengalami kelesuan rohani, Natan datang membangkitkan semangat dan harapannya.

2. Natan menajamkan spiritualitas Daud  -  2 Sam 12: 10-15

Ketika Daud berbuat dosa, Natan menegur serta memberikan jalan keluar. Natan juga mengoreksi kekurangan Daud dan menilik Daud dalam bidang-bidang strategis.

3. Generasi kita membutuhkan ‘Natan masa kini” sebagai penasehat rohani dalam konteks penggilan dan pelayanan.

Natan telah membagikan hidupnya untuk orang lain, mendorong orang lain maju dalam kehidupan rohani. Bagaimana dengan kita?

 

(Intisari Renungan Kotbah Pdm. Maria Liem)

Kisah Para Rasul 6: 1-15, 7:54-60

Setiap kita yang dipanggil untuk melayani Allah, bukan hanya diminta untuk mengerjakan apa yang Allah kehendaki, namun juga untuk membangun kualitas hidup yang diperkenan Allah. Allah bukanlah Allah yang ini memperkenan apa yang kita kerjakan, Allah adalah Allah yang rindu memperkenan hidup kita … dan menemukan bahwa hidup orang-orang yang melayaniNya kedapatan seperti yang Ia kehendaki.

christian clipart

Belajar dari tokoh Stefanus, salah salah satu contoh pribadi yang bukan hanya menunjukan kualitas perlayanan yang dikehendaki Allah namun juga menjadi pribadi dengan kualitas hidup yang diperkenan Allah. Sebagai salah seorang diaken, Stefanus bukanlah pribadi dengan kualitas hidup yang sembarangan. Kisah Para Rasul 6, menjelaskan bagaimana kualiotas hidup yang ia miliki. Ia adalah pribadi yang terkenal baik (v.3), penuh dengan Roh & kikmat (v.3), penuh dengan iman dan Roh Kudus (v.5), penuh dengan karunia dan kuasa (v.8).

Dengan kualitas hidup dimiliki tersebut, yang kemudian membuat Stefanus mampu mempertanggungjawabkan setiap tugas yang dipercayakan kala ia dipilih dan dipercaya umat serta mendapat tanggungjawab dari Para Rasul untuk melayani kebutuhan umat sebagai seorang diaken, Yang menarik dan luar biasa, hasil pelayanan dari orang-orang dengan kualitas hidup seperti Stefanus menghasilkan gereja (umat percaya saat itu) menjadi komunitas yang mengerjakan kehendak Allah, menjadi komunitas yang diberkati dan mampu merahmati sesame. Hal itu terlihat nyata dari firman yang semakin tersebar, jumlah murid makin bertambah bahkan sejumlah imam juga menyerahkan diri dan percaya (Kis.6:7).

Membangun kualitas hidup untuk menjadi pribadi yang diperkenan Allah, bukanlah hal yang main-main bagi Stefanus … untuk itulah ia terus berjuang untuk membangun keyakinan yang kokoh pada Allah, membangun kehidupan yang bertangungungjawab kepada Allah, membangun hidup dalam kasih pengampunan seperti Allah.

Dengan kualitas hidup yang dimilikinya, bukan hanya prestasi pelayanan yang berhasil diwujudkan Stefanus … bahkan kita juga melihat moment dalam hidupnya yang menkonfirmasi bahwa dia sungguh-sungguh menjadi pribadi yang hidupnya diperkenan Allah … yaitu dalam Kis.6:15, saat banyak orang melihat Stefanus bagaikan “muka seorang malaikat” serta pada saat akhir hidupnya, ketika ia kedapatan meninggal dalam “kemuliaan Allah”.

Laus Deo

(Renungan Kotbah Ibadah Minggu GKMI Koinonia, 22 April 2012 oleh Kefas Lilik)

 

 

Kasih dalam ruang hati manusia…
Allah itu kasih, maka hiduplah bagi cinta kasih-Nya. Itulah sepenggal kalimat sering diungkapkan ketika seseorang berbicara tentang kasih. Apa itu kasih? Kalau melirik uraian makna “kasih” dalam 1 Korintus 13.4-8, kita tentu bisa memahami bagaimana kasih itu seharusnya ditunjukkan oleh setiap orang yang mengenal Allah kepada sesama manusia. Di sisi lain, mengerti kasih itu juga berarti kita telah mengalami bagaimana kasih itu bekerja dalam diri kita. Pendeknya, sebelum kita mengabarkan, apa itu kasih, kita telah lebih dahulu mengalami kasih itu sendiri.

Bila kita membaca surat Kolose, yang ditulis oleh rasul Paulus kepada saudara-saudara yang kudus dan percaya di Kolose, kita melihat pasal 3 didahului dengan uraian Paulus mengenai kepenuhan hidup di dalam Kristus sebagai manusia baru. Dikatakan dalam pasal 2 ayat 6-7 demikian : “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu…” Ada suatu pola yang jelas, di mana setiap orang percaya dilahir-barukan oleh Roh Kudus dan hidup sepenuhnya bagi Allah. Hidup yang tetap, berakar, dibangun, dan bertambah teguh di dalam Allah. Hal ini berarti kehidupan spiritualitas kita mengalami kepenuhan di dalam Allah!

Kepenuhan di dalam Allah yang adalah kasih, menuntun setiap orang percaya untuk mengekspresikan “kasih” yang baru itu di dalam kehidupannya sesehari. Bagaimana mengekspresikan kasih itu? Mari kita simak pasal 3 ayat 12-14 : “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat juga demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Tentu, kita mengerti apa itu belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Kelima hal ini menjadi dasar kita untuk mengekspresikan kasih kita pada sesama.

Mari kita belajar mengekspresikan kasih kita pada sesama. Tuhan menyertai kita sekalian.

(Disarikan dari khotbah Ev. Andi OS, M.Div.)