Archive for the ‘Khotbah’ Category

Memandang Kedewasaan…
Setiap orang menyadari bahwa lambat laun dirinya akan menjadi tua dalam usia. Wajah semakin keriput, kerut yang menghiasi dahi, dan rambut yang berubah menjadi putih. Semua itu terjadi seiring berjalannya waktu. Pernahkah kita berpikir, mengapa kita menjadi tua? Adakah cara untuk menghalau masa tua yang datang menyergap kita? Namun, ada suatu bagian penting lain dalam hidup kita yang tidak bisa diukur dari segi usia. Hal itu disebut sebagai kedewasaan. Yah, sebuah sikap, karakter, cara memandang, melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda seiring berjalannya waktu yang memproses kita semakin hari semakin baik, bukan semakin layu seperti tubuh kita! Hmmm..perhatikan! Dua hal yang berkebalikan dan sangat dekat dengan kehidupan kita. Lalu, bagaimana kita mendapatkan kedewasaan itu?

Mari kita simak 2 Korintus 4.16-18. Surat ini mengisahkan sebagian besar pergulatan rasul Paulus di dalam pelayanannya kepada jemaat di Korintus. Di pasal 4 ini, kita menyimak keteguhan dan ketabahan hatinya, yang seolah-olah Allah telah melapangkan, membesarkan hati rasul Paulus untuk menyikapi semua peristiwa yang dialami oleh dirinya di dalam kasih dan anugerah Allah. Coba kita perhatikan ayat 16, “sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Paulus memandang bahwa pergumulannya selama melayani sebagai hamba Kristus Yesus, demikian dia biasa menyapa jemaat di Korintus, adalah suatu hal yang membawa dirinya semakin dekat dengan Allah, dimana hati dan pikirannya disegarkan dan diberdayakan untuk mengerjakan pelayanan itu. Tidak peduli betapa tua, lemah, dan berkurangnya sebagian besar kekuatan yang menggerakkan tubuhnya untuk memberitakan Injil, namun rasul Paulus tetap melayani Allah. Ada sebuah pelajaran menarik di sini. Seringkali kita memandang pelayanan kita, membentuk diri kita untuk menyibukkan diri, membuat lelah tubuh kita, menyita waktu, tenaga, serta pikiran kita. Memang, itu anggapan yang muncul. Namun, sesungguhnya dibalik semua itu, Allah sedang memproses kita untuk meresponi secara tepat apa maksud dan isi hati-Nya kepada kita.
Kedewasaan adalah sebuah perbedaan yang mengarahkan kita untuk melihat bagaimana meresponi, menangkap dan mengelola sesuatu yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Seringkali kita salah tangkap dan menganggap semua hal-hal buruk yang terjadi di dalam hidup kita sebagai sesuatu yang menyedihkan dan memberi kesempatan pada kita untuk mengasihani diri sendiri. Namun, di tengah proses menuju kedewasaan tadi, Allah sedang mengerjakan di dalam diri kita, sebuah pemahaman yang lain, yang sama sekali berbeda dari apa yang selama ini kita pikirkan. Bukan sebuah loncatan berpikir, tetapi suatu jalan panjang dalam perjalanan spiritualitas kita untuk menemukan Allah di dalam kehendak dan kedaulatan-Nya.

Belajar memahami kedewasaan sebagai proses, maka kita belajar bagaimana Allah membentuk kita semakin hari semakin dewasa di dalam Tuhan. Semakin hari semakin memahami hikmat-hikmat-Nya untuk menjalani kehidupan ini. Kita tidak lagi bertanya mengapa hal ini dan itu terjadi, tetapi mulai bergumul bagaimana aku menghadapi hal-hal yang terjadi dalam hidupku. So, how should we then live? Bagaimana seharusnya kita memandang hidup dan kedewasaan kita di dalam Tuhan?

TERPUJILAH ALLAH!

(Disarikan dari khotbah Ev. Andi OS, M.Div. )

GIVING 100%

Author: Elroy

Mengapa memberi?
Memberi merupakan sebuah perihal yang sulit. Terlebih memberi dalam kekurangan. Lalu, mengapa kita harus memberi? Apa dampaknya jika kita memberi? Memberi bisa diartikan “berbagi” dalam hal materi, “mengurangi sesuatu dari apa yang kita miliki dialihkan pada pihak lain” dalam hal waktu, tenaga, pikiran dll. Cukup banyak pengertian kata “memberi.” Namun, bila kita belajar dari kesaksian kitab suci mengenai “memberi” ada sebuah ungkapan menarik dari perkataan Yesus pada murid-murid-Nya ketika sedang berhadapan dengan sebuah peti persembahan dimana banyak orang datang memasukkan uang ke dalam peti itu, “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Markus 12.43b-44).

Merupakan hal yang lazim bila kita menyaksikan seseorang memberi dari kekayaannya (baca: harta, uang). Tapi, bagaimana dengan janda miskin yang disaksikan oleh Injil Markus? Nampaknya sesuatu yang muskil terjadi! Sulit bagi kita untuk memberi, jika diri kita saja masih berkekurangan. Lalu? Apa yang dimaksud “memberi” di sini?

Memberi karena kita telah menerima…
Tentu, ketika berbicara penebusan, Allah tidak segan-segan memberikan Anak-Nya yang tunggal, Kristus Yesus sebagai korban tebusan bagi banyak orang. Allah menunjukkan cinta kasih dan keadilan-Nya sekaligus di dalam keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus. Dan Kristus telah memberi diri-Nya hingga kematian! Siapa Kristus, hingga Ia mau memberi diri hingga mati? Itu sebuah misteri besar kasih Allah pada dunia. Tetapi bukan berarti kita tidak dapat mengertinya. Kita tahu bahwa Allah sangat serius terhadap dosa, dan untuk itulah Allah sendiri yang harus membereskan dosa itu. Kuasa dosa dikalahkan dan umat-Nya beroleh kemenangan. Dan itulah yang disebut anugerah! Memang cuma-cuma, tetapi bukan berarti tidak berarti dan tidak berharga! Dalam keselamatan itu, kita menerima “sesuatu” yang tidak dapat rusak oleh ngengat, karat, dan intaian dari si jahat.

Kalau demikian, bagaimana kita harus memberi? Siapkah kita memberi? Bukan hanya memberi materi (uang, harta dll), tetapi terpenting adalah bagaimana kita memberi diri kepada Tuhan. Mempersembahkan hidup seutuhnya bagi kemuliaan Tuhan!

Selamat belajar memberi.
Tuhan memberkati.

(Disarikan dari khotbah Rev. Troy David Landis)

persekutuan

Koinonia

Mengapa Koinonia?
Pernahkah kita bertanya apa arti Koinonia itu? Ada yang bilang, itu ‘kan nama gereja kita. Betul. Tapi, arti kata Koinonia ditinjau dari akar katanya berarti persekutuan. Dari kata “sekutu” dengan tambahan imbuhan di depan dan belakang. Kita dapat belajar bagaimana keadaan “persekutuan” mula-mula dari jemaat perdana yang disaksikan dalam Kisah Para Rasul 2.41-47; 4.32-37. Di perikop itu, kita melihat bagaimana persekutuan dibangun dan diberdayakan atas dasar pengajaran dan kesatuan hati para jemaat. Kepemilikan bukan hanya “satu”, tetapi “bersama.” Dan kehidupan berbagi menjadi kegemaran mereka sesehari. Dikatakan bahwa jemaat perdana senantiasa “tekun” bersekutu di dalam Bait Allah. Mereka memecah-mecah roti secara bergilir di rumah masing-masing dan makan bersama-sama dengan tulus hati. Hmmm…gambaran yang ideal dari sebuah persekutuan. Di ayat 47 kita menyaksikan bahwa kehidupan jemaat perdana ini menyukakan banyak orang dan Allah menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Kerinduan akan hadirnya suasana persekutuan seperti jemaat perdana tentu menjadi ideal yang dirindukan banyak orang percaya. Seperti juga kerinduan kita bersama membangun GKMI Koinonia. Tentu bukan kebetulan jika di Surabaya ada sebuah gereja yang sebagian besar adalah mahasiswa! Dan uniknya dari berbagai tempat dan latar belakang. Kita mengingat akan Alm. Pdt. Andreas Setiawan yang telah merintis GKMI Koinonia sejak sebelas tahun silam. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi supaya ada persekutuan muda-mudi GKMI di Surabaya! Tentu, alasannya bukan semata-mata pragmatis, tetapi mengandung suatu kerinduan supaya banyak anak muda di Surabaya menjadi berkat bagi banyak orang. Dan lebih lagi ada banyak jiwa yang dimenangkan melalui pekabaran Injil.

Apa yang harus aku lakukan buat Koinonia?
Belajar dari Kisah Para Rasul 2.41-47; 4.32-37, kita diajak untuk kembali pada perilaku yang paling mendasar dalam bersekutu, yaitu mengasihi. Mengapa kita perlu kembali belajar mengasihi? Memang kasih itu mula-mula datangnya dari Allah yang lebih dulu mengasihi kita dan merangkul kita sebagai anak-anak-Nya untuk bersekutu di dalam kasih-Nya. Allah yang mengasihi kita sebagai Pribadi yang mengenal dan memahami seutuhnya karakter dan kehidupan kita. Kasih yang diletakkan di dalam diri kita mula-mula itu juga ditekankan bahwa bukan hanya “aku” yang menjadi sentral, pusat  perhatian, tetapi bagaimana aku juga bisa belajar mengasihi orang lain.

Belajar mengasihi yang pertama adalah mengasihi sesama sebagai saudara. Bila kita perhatikan perikop Matius 12.50, Yohanes 1.12-13, I Petrus 1.22,dan Efesus 2.19, kita akan menemukan kata “saudara, anak-anak Allah,persaudaraan, kawan sewarga, anggota-anggota keluarga Allah.” Kata-kata yang menggambarkan kedekatan hubungan secara personal (antar-pribadi) dan vertikal (dengan Allah). Berarti ketika kita belajar mengasihi, kita mulai mempraktekkan bagaimana mengasihi sesamaku manusia dan juga Allah.

Belajar mengasihi yang kedua adalah mengasihi sesama dengan saling mencukupi. Yang kuat menopang yang lemah. Yang berkelebihan menggandeng yang berkekurangan. Ketika yang berkelebihan mencukupkan yang berkekurangan, tentu bukan sebuah beban penderitaan, tanggungan, tetapi supaya ada sebuah keseimbangan. Allah yang telah mencukupkan kebutuhan kita, maka kita pun belajar mencukupkan sesama kita.
Belajar mengasihi yang ketiga adalah mengasihi sesama dengan saling memperhatikan. Ada lima bentuk pelayanan yang dapat kita lakukan dalam hal saling memperhatikan.
Memperhatikan dengan mata (Ibrani 10:24-25). Pandangan mata kita sangat penting untuk menggambarkan keutuhan perhatian kita terhadap seseorang. Terkadang ketika kita memandang bagian yang paling kecil dari kehidupan seseorang dengan mata kita, kemudian kita menemukannya untuk menolong dan mengingatkan orang tersebut, tentu ada sebuah kesan dari bagaimana kita memperhatikan dengan kedua mata kita.
Memperhatikan dengan memberikan kata-kata penyemangat (Kolose 4.6; Yakobus 1.19). Hendaklah kata-kata kita senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kita mengerti bagaimana harus memberi jawab pada setiap orang. Kata-kata yang membangun, menyemangati, membangkitkan kembali gairah untuk bersekutu, melayani dan mengasihi satu sama lain.
Mengasihi dengan telinga. Tuhan memberi kita dua teliga dan satu mulut. Itu berarti kita harus belajar mengasihi sesama dengan belajar untuk cepat mendengar dan lambat untuk berkata-kata. Supaya apa yang keluar dari mulut kita bukan dusta tetapi kebenaran.
Memperhatikan dengan tangan (Roma 15.1). Tangan sering digambarkan memiliki kekuatan. Kekuatan yang menunjukkan kemampuan untuk menanggung dan menopang yang lemah. Tangan yang senantiasa terbeban untuk mengerjakan sesuatu yang mengentaskan sesama dari penderitaan karena kelemahan dan kekurangan. Di sisi lain, tangan kita juga bisa dipakai untuk menuliskan sesuatu yang menyemangati, menyukakan, mengapresiasi sesuatu pada diri orang lain.
Mengasihi dengan kaki (Roma 1.10). Seperti kerinduan rasul Paulus untuk memperhatikan jemaatnya yang berada di tempat yang berjauhan. Paulus mengupayakan dengan “sangat rindu” untuk berjumpa jemaatnya. Perhatian bisa diberikan dengan kehadiran kita bersama-sama dengan mereka yang saat ini sangat membutuhkan kehadiran kita.

Selamat belajar mengasihi.
Tuhan memberkati.

(Disarikan dari khotbah Pdm. Maria Liem)

Apa yang menarik dari Berita Injil?
Tidak dapat dipungkiri bahwa orang Kristen terkadang sukar untuk bergerak memberitakan Injil. “Sukar bergerak” bukan karena dibatasi oleh pihak-pihak dari luar, tetapi justru karena keengganan yang lahir dari diri sendiri. Terkadang orang Kristen menjadi minder, takut salah, dsb dalam pemberitaan Injil karena merasa dirinya tidak memiliki metode yang canggih, bukan layaknya hamba Tuhan (pendeta) yang fasih berkata-kata tentang Firman Allah, atau alasan lain yang memberikan pembenaran terhadap keengganan itu sendiri.
Berita Injil bukanlah berita memalukan, memualkan atau menimbulkan kecurigaan karena sering dianggap sebagai senjata untuk mengkristenisasi orang yang belum percaya di dalam Kristus Yesus. Berita Injil dari zaman dahulu hingga sekarang tetap sama: kabar sukacita yaitu tentang bagaimana Allah berinisiatif menyelamatkan manusia berdosa dengan menjadikan Yesus Kristus sebagai jalan pendamaian oleh penebusan-Nya di kayu salib! Berita ini, ya dan amin. Orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup-Nya memiliki sebuah keharusan ilahi untuk memberitakan “berita Injil” ini.

Yesus dan Perempuan Samaria
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria bukanlah suatu kebetulan belaka. Yohanes 4:4 menunjukkan bahwa Yesus “harus” melintasi daerah Samaria. Tentu hal ini menarik. Orang-orang Yahudi, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi menganggap najis melewati daerah orang Samaria. Mereka bahkan tidak mau bertatap muka dengan orang Samaria. Lalu, mengapa justru Yesus “harus” melewati daerah Samaria? Kita simak baik-baik penuturan injil Yohanes. Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ingin menunjukkan bahwa sikap dan tindakan orang-orang Yahudi, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang merasa sebagai pewaris tunggal berita keselamatan, dan kemudian menganggap orang-orang di luar mereka adalah orang-orang yang tidak mendapat keselamatan adalah sikap yang salah! Kalau diperhatikan, apa yang dilakukan Yesus jelas-jelas menabrak tradisi, aturan bahkan ketetapan orang-orang Yahudi. Yesus melanggar semua norma yang ditetapkan orang Yahudi dan Yesus merusak semua batasan yang menghalangi orang Samaria untuk datang pada Allah! Apakah Yesus benar di dalam hal ini?

Pemberitaan Injil : Mulai dari Diri Sendiri…
Sebelum setiap orang Kristen memberitakan Injil, mereka harus melihat lebih dahulu ke dalam hidup mereka. Apakah berita Injil itu telah mengubahkan hidup mereka? Kadang kita bisa berkata “percaya” dengan mudah, namun dalam tindakannya, kita sama seperti orang-orang dunia. Lalu apa artinya kita mendengar berita Injil? Bagaimana orang lain mau melihat hidup kita dan diubahkan, kalau diri kita sendiri sama sekali tidak mau berubah? Berita Injil bukan saja menembus batas-batas status sosial, latar belakang kehidupan dan karakter seseorang, tetapi juga menembusi batas-batas, ruang-ruang yang paling tersembunyi di dalam hidup kita.

Selamat memberitakan Injil.
Tuhan dipermuliakan!

(Disarikan dari khotbah Ev. Anthon Katobba, M.Div)

Kehidupan orang Kristen tidak lepas dari pergumulan untuk memahami kebenaran firman Allah di dalam perjumpaannya secara dengan Allah. Mengapa pergumulan orang percaya dikaitkan dengan firman Allah? Karena pergumulan itu membawa manusia untuk mengerti dan memahami maksud dan kehendak Allah dalam hidupnya. Tentu saja, firman Allah tidak seperti “juklak” (petunjuk pelaksanaan) yang berisi perintah dan larangan untuk kemudian diterapkan secara praktis. Melalui firman-Nya, Allah ingin membuka suatu relasi yang intim antara umat percaya dengan diri-Nya secara intensif. Manusia diajak untuk mencari Allah dan bukan mencari kehendak manusia sendiri. Di sinilah manusia akan berjumpa dengan serentetan pengalaman rohani dalam perjalanan spiritualitas (spiritual journey) kehidupan imannya.
Setiap orang percaya memiliki tanggung jawab untuk memahami dan merenungkan kebenaran firman Allah secara pribadi. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan pendalaman Alkitab (PA) baik kelomok maupun individu. Mengapa harus demikian? Pesan rasul Paulus terhadap Timotius dalam surat 2 Timotius 3.10-17 secara jelas menekankan pentingnya kehidupan orang percaya untuk berpegang pada kebenaran yang telah diyakini. Kebenaran yang diyakini diarahkan pada pengenalan akan Kitab Suci sedari kecil, dimana Kitab Suci memberi hikmat, dan menuntun orang kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Kebenaran firman Allah itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Aspek pengajaran menekankan pentingnya kebutuhan orang percaya untuk mendengar pengajaran sejati dalam gereja. Firman Allah itu sebagai filter bagi setiap pemikiran, pengetahuan yang manusia miliki agar kesemuannya berkenan di hadapan Allah. Aspek menyatakan kesalahan dan memperbaiki kelakuan menunjuk pada status manusia yang dapat berbuat salah dan jatuh ke dalam dosa. Namun, manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk bertobat dan kembali pada keenaran. Di sinilah kebenaran firman Tuhan diperlukan untuk meluruskan yang bengkok dan mempersiapkan jalan baru bagi kehidupan yang telah diperbarui. Aspek mendidik orang dalam kebenaran mengarahkan setiap orang percaya untuk hidup dalam kebenaran yang sejati. Bukan daerah abu-abu, yang sering menjadi lahan kompromistis manusia untuk mentolerir berbagai kesalahan yang terjadi.
Bagi setiap orang percaya yang ingin dengan sungguh ber-PA secara pribadi dapat melakukan secara sederhana dengan mengikuti hal-hal berikut:
1. Beri tanda tanya ( ? ), Apa yang aku pelajari hari ini?
2. Beri tanda seru ( ! ), Apa perintah yang harus aku ikuti?
3. Buat tanda vertikal ( ↑ ), Apa yang aku pelajari tentang Allah?
4. Buat tanda  horizontal ( ↔ ), Apa yang aku pelajari tentang sesamaku manusia?
5. Beri tanda “i” kecil di bagian akhir catatan renungan untuk komitmen kita: apa yang dapat saya lakukan?

Selamat ber-PA.
Tuhan memberkati.

(Disarikan dari khotbah Pdt. Bagoes Seta)