Posts Tagged ‘gereja’

persekutuan

Koinonia

Mengapa Koinonia?
Pernahkah kita bertanya apa arti Koinonia itu? Ada yang bilang, itu ‘kan nama gereja kita. Betul. Tapi, arti kata Koinonia ditinjau dari akar katanya berarti persekutuan. Dari kata “sekutu” dengan tambahan imbuhan di depan dan belakang. Kita dapat belajar bagaimana keadaan “persekutuan” mula-mula dari jemaat perdana yang disaksikan dalam Kisah Para Rasul 2.41-47; 4.32-37. Di perikop itu, kita melihat bagaimana persekutuan dibangun dan diberdayakan atas dasar pengajaran dan kesatuan hati para jemaat. Kepemilikan bukan hanya “satu”, tetapi “bersama.” Dan kehidupan berbagi menjadi kegemaran mereka sesehari. Dikatakan bahwa jemaat perdana senantiasa “tekun” bersekutu di dalam Bait Allah. Mereka memecah-mecah roti secara bergilir di rumah masing-masing dan makan bersama-sama dengan tulus hati. Hmmm…gambaran yang ideal dari sebuah persekutuan. Di ayat 47 kita menyaksikan bahwa kehidupan jemaat perdana ini menyukakan banyak orang dan Allah menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Kerinduan akan hadirnya suasana persekutuan seperti jemaat perdana tentu menjadi ideal yang dirindukan banyak orang percaya. Seperti juga kerinduan kita bersama membangun GKMI Koinonia. Tentu bukan kebetulan jika di Surabaya ada sebuah gereja yang sebagian besar adalah mahasiswa! Dan uniknya dari berbagai tempat dan latar belakang. Kita mengingat akan Alm. Pdt. Andreas Setiawan yang telah merintis GKMI Koinonia sejak sebelas tahun silam. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi supaya ada persekutuan muda-mudi GKMI di Surabaya! Tentu, alasannya bukan semata-mata pragmatis, tetapi mengandung suatu kerinduan supaya banyak anak muda di Surabaya menjadi berkat bagi banyak orang. Dan lebih lagi ada banyak jiwa yang dimenangkan melalui pekabaran Injil.

Apa yang harus aku lakukan buat Koinonia?
Belajar dari Kisah Para Rasul 2.41-47; 4.32-37, kita diajak untuk kembali pada perilaku yang paling mendasar dalam bersekutu, yaitu mengasihi. Mengapa kita perlu kembali belajar mengasihi? Memang kasih itu mula-mula datangnya dari Allah yang lebih dulu mengasihi kita dan merangkul kita sebagai anak-anak-Nya untuk bersekutu di dalam kasih-Nya. Allah yang mengasihi kita sebagai Pribadi yang mengenal dan memahami seutuhnya karakter dan kehidupan kita. Kasih yang diletakkan di dalam diri kita mula-mula itu juga ditekankan bahwa bukan hanya “aku” yang menjadi sentral, pusatĀ  perhatian, tetapi bagaimana aku juga bisa belajar mengasihi orang lain.

Belajar mengasihi yang pertama adalah mengasihi sesama sebagai saudara. Bila kita perhatikan perikop Matius 12.50, Yohanes 1.12-13, I Petrus 1.22,dan Efesus 2.19, kita akan menemukan kata “saudara, anak-anak Allah,persaudaraan, kawan sewarga, anggota-anggota keluarga Allah.” Kata-kata yang menggambarkan kedekatan hubungan secara personal (antar-pribadi) dan vertikal (dengan Allah). Berarti ketika kita belajar mengasihi, kita mulai mempraktekkan bagaimana mengasihi sesamaku manusia dan juga Allah.

Belajar mengasihi yang kedua adalah mengasihi sesama dengan saling mencukupi. Yang kuat menopang yang lemah. Yang berkelebihan menggandeng yang berkekurangan. Ketika yang berkelebihan mencukupkan yang berkekurangan, tentu bukan sebuah beban penderitaan, tanggungan, tetapi supaya ada sebuah keseimbangan. Allah yang telah mencukupkan kebutuhan kita, maka kita pun belajar mencukupkan sesama kita.
Belajar mengasihi yang ketiga adalah mengasihi sesama dengan saling memperhatikan. Ada lima bentuk pelayanan yang dapat kita lakukan dalam hal saling memperhatikan.
Memperhatikan dengan mata (Ibrani 10:24-25). Pandangan mata kita sangat penting untuk menggambarkan keutuhan perhatian kita terhadap seseorang. Terkadang ketika kita memandang bagian yang paling kecil dari kehidupan seseorang dengan mata kita, kemudian kita menemukannya untuk menolong dan mengingatkan orang tersebut, tentu ada sebuah kesan dari bagaimana kita memperhatikan dengan kedua mata kita.
Memperhatikan dengan memberikan kata-kata penyemangat (Kolose 4.6; Yakobus 1.19). Hendaklah kata-kata kita senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kita mengerti bagaimana harus memberi jawab pada setiap orang. Kata-kata yang membangun, menyemangati, membangkitkan kembali gairah untuk bersekutu, melayani dan mengasihi satu sama lain.
Mengasihi dengan telinga. Tuhan memberi kita dua teliga dan satu mulut. Itu berarti kita harus belajar mengasihi sesama dengan belajar untuk cepat mendengar dan lambat untuk berkata-kata. Supaya apa yang keluar dari mulut kita bukan dusta tetapi kebenaran.
Memperhatikan dengan tangan (Roma 15.1). Tangan sering digambarkan memiliki kekuatan. Kekuatan yang menunjukkan kemampuan untuk menanggung dan menopang yang lemah. Tangan yang senantiasa terbeban untuk mengerjakan sesuatu yang mengentaskan sesama dari penderitaan karena kelemahan dan kekurangan. Di sisi lain, tangan kita juga bisa dipakai untuk menuliskan sesuatu yang menyemangati, menyukakan, mengapresiasi sesuatu pada diri orang lain.
Mengasihi dengan kaki (Roma 1.10). Seperti kerinduan rasul Paulus untuk memperhatikan jemaatnya yang berada di tempat yang berjauhan. Paulus mengupayakan dengan “sangat rindu” untuk berjumpa jemaatnya. Perhatian bisa diberikan dengan kehadiran kita bersama-sama dengan mereka yang saat ini sangat membutuhkan kehadiran kita.

Selamat belajar mengasihi.
Tuhan memberkati.

(Disarikan dari khotbah Pdm. Maria Liem)